Bismillahirrahmanirrahim..
Assalamu’alaikum ww
PERNIKAHAN
Dan di antara tanda-tanda kekuasaan-Nya ialah Dia menciptakan untukmu isteri-isteri dari jenismu sendiri, supaya kamu cenderung dan merasa tenteram kepadanya, dan dijadikan-Nya diantaramu rasa kasih dan sayang. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda bagi kaum yang berfikir. [QS. Ar-Rum ayat 21]
Hadis Nabi saw :
فال رسول الله صلى عليه وسلم : النكاح سنتى فمن رغب عن سنتي فليس منى
Pernikahan adalah perbuatan yang selalu diinginkan dan didambakan oleh setiap manusia yang hidup.
Pernikahan itu adalah sunnah Nabi [النكاح
سنتى], maka barang siapa yang tidak melaksanakan nikah, kata Nabi saw bukan
golongannya [فمن رغب عن سنتئ فليس منى]. Pernikahan harus didasarkan pada agama,
ibadah, dan menjalankan sunnah Nabi saw, dan bukan didasarkan pada nafsu belaka
atau didasarkan tujuan lain yang tidak sesuai dengan ajaran agama Islam.
Ada satu kisah dimana beberapa santri yang sudah
menjalani proses ta’aruf ingin meminta nasehat tentang pernikahan kepada Ustadz,
Ustadz terebut bertanya,
“Nak.. kalau
kalian yang sudah berproses hingga sejauh ini ternyata pada akhirnya
kalian tidak berjodoh, tidak bisa sampai ke pernikahan..” beliau menghela nafas
sebentar, kemudian menatap kami, “Bagaimana perasaan kalian?”. Mereka terdiam.
Ustadz memecah keheningan
kami dengan mengulang kembali pertanyaan yang sama, “Bagaimana seandainya
ternyata setelah berproses sejauh ini, ternyata kalian tidak bisa sampai ke
pernikahan sebab kalian memang tidak ditakdirkan Allah untuk berjodoh?” Kami terdiam
kembali dan benar-benar membayangkan apabila kelak hal tersebut benar terjadi.
Dan akhirnya ustadz bertanya kembali, “Bagaimana perasaannya? Ternyata
berat ya membayangkan bila setelah berproses sejauh ini ternyata tidak bisa
sampai ke pernikahan?” Saya mengangguk dalam hati. Sungguh berat sekali
membayangkan apabila benar suatu hari ternyata proses kami harus terhenti atas
alasan apapun.
“Nak.. rasa
berat hati saat membayangkan seandainya diri tidak berjodoh dengan pasangan
yang sedang berproses sekarang merupakan tanda bahwa niat menikahmu belum lurus untuk Allah SWT.
“Ucapan mengenai niatan menikah karena
Allah, demi ibadah yang lebih lengkap, pengutuhan keimanan, dll.. mudah sekali
diuji kebenarannya dengan cara demikian tadi. Bayangkan bila seandainya tidak
berjodoh. Ucapanmu diuji melalui rasa hatimu yang jelas tidak bisa berdusta.”
Seketika itu
diri ini diliputi muhasabbah yang sangat dalam. Pernyataan ustadz
tersebut berputar-putar di kepala. Saya menunduk. Benar, sangat benar. Rasa
hati yang berat itu merupakan bukti nyata bahwa niatan menikah saya belumlah
lurus karena Allah. Ustadz tersenyum.
“Sebetulnya, bila niatan menikahnya
benar-benar lurus, rasa berat hati apabila ternyata tidak bisa bersatu dalam
pernikahan itu tidak akan ada. Hati yang lapang menerima dengan ikhlas atas
apapun ketentuan-Nya bisa dengan mudah dimiliki apabila diri sudah sangat yakin
bahwa apapun yang terjadi di muka bumi ini, sebenarnya merupakan ketentuan baik
dari Allah. Lagipula, bila benar ternyata tidak berjodoh, berarti Allah sedang
siapkan yang benar-benar terbaik menurut-Nya. Apa yang harus disedihkan?“Jadi
untuk menggapai pernikahan yang barakah, pertama-tama.. luruskan dulu niat
menikahmu, sebab itu yang sebetulnya cukup sulit. Bila niatan sudah lurus,
selebihnya insyaAllah akan dimudahkan.”
Note: Semoga kita senanti meluruskan
niatan
Katanya pernikahan itu Indah.. ia
indah, saya analogikan seperti pemandangan gunung, lautan, dan danau.. kita
bisa melihat keindahan itu walaupun tanpa berkunjung ke tempat tersebut,
melalui foto. Tapi keindahan itu terasa hambar jika hanya sebatas foto, dimana
kita tak bisa melihat view bagian lain, tak bisa merasakan angin yang berhembus
di atas gunung, tak bisa mendengar deburan ombak di lautan, dan tak bisa
merasakan kedamaian danau. Jika kita ingin ke sana maka kemungkinan kita harus
menjalani jalan-jalan yang berliku, jauh, dan memerlukan energi yang besar
untuk mencapai tempat tersebut, tapi jika kita sudah ditempat tujuan maka kita
akan bilang “semua lelah terbayarkan dengan pemandangan ini”.
Begitu juga Dalam berumah tangga, kita akan melalui perjalanan panjang dan sangat
melelahkan dengan tujuan untuk mecapai “pantai kebahagiaan” yang sakinah dan diridhoi Allah.. Untuk mencapai “pantai
kebahagian” tersebut, tentu saja kita harus
berbekal :
[1] mempersiapkan diri dan mental, baik suami maupun istri, kadang mungkin diri
[2] mempersiapkan berbagai keperluan dan bekal agar perjalanan kita terasa aman, nyaman, dan lancer, sebab apabila datang badai dan gelombang, kita akan siap menghadapinya dengan sikap tenang, tidak grogi, tidak takut dan tidak gentar sekalipun dahsatnya badai dan gelombang tersebut, sebab kita memiliki dasar [agama] dan pedoman[al-Qur’an dan Hadis].
Untuk mengarungi perjalanan [rumah tangga] itu dengan baik dan lancar,
kita
perlu mempersiapkan :
Pertama, kapal [rumah tangga] yang kokoh agar tidak
macet dalam perjalanan.
Kedua, mesin yang betul-betul baik.
Ketiga, bahan bakar yang cukup dan memadai.
Keempat, membawa peta dan kompas sebagai pedoman perjalanan agar tidak sesat dalam perjalanan. Kelima, membawa peralatan yang memadai untuk mengantipasi macet.
Keenam, nahkoda yang pandai, lihai, dan memiliki strategi untuk mengemudi kapal.
Ketujuh, membawa bekal yang cukup dalam perjalanan.
Kedua, mesin yang betul-betul baik.
Ketiga, bahan bakar yang cukup dan memadai.
Keempat, membawa peta dan kompas sebagai pedoman perjalanan agar tidak sesat dalam perjalanan. Kelima, membawa peralatan yang memadai untuk mengantipasi macet.
Keenam, nahkoda yang pandai, lihai, dan memiliki strategi untuk mengemudi kapal.
Ketujuh, membawa bekal yang cukup dalam perjalanan.
Pertama :
Rumah Tangga
[الاسرة ], bagaikan kapal [bahtera] yang kokoh. Rumah tangga, harus dibangun
atas dasar taqwa, cinta, suka sama suka dan didukung dengan kedua belah pihak
keluarga yang merestui serta mengharapkan ridho Ilahi. Selain itu, harus
mempunyai niat dan kebulatan tekad untuk berumah tangga atas dasar
lillahita’ala, dengan ibadah [salat] – Insya Allah, rumah tangga akan kokoh.
Berumah tangga itu sendiri juga sebagai perilaku ibadah kepada Allah dan
menjalankan sunnah Nabi saw [النكاح سنتى ].
Kedua :
Hati [
القلب], sebagai mesin yang bagus. Artinya, suami istri harus punya tujuan yang
sama. Berumah tangga bukan untuk hanya sekedar melepas nafsu birahi, melainkan
harus memiliki tujuan untuk mencetak generasi-generasi bangsa yang baik, kuat
dan tanggung serta bertaqwa kepada Allah swt. Tanpa punya perasaan sehati,
mungkin saja tujuan tidak akan tercapai. Maka dengan dasar ini, suami istri
harus tahun kepribadian masing-masing dan inilah yang dinamakan ta’aruf [تعارف
].
Ketiga :
Akhlak
[الاخلاق], sebaga bahan bakar. Dalam berumah tangga, apabila hanya berbekal
atau memiliki cinta dan perasaan saja, tanpa dibekali dan atau dibarengi dengan
akhlak mulia, jangan berandai-andai untuk dapat menguasai medan perjuangan yang
berat itu. Akhlak adalah pondasi utama dalam beragama, kata Abul Atahiyah :
ليست الدنيا الا بدين وليس الدين الابمكارم الاخلاق , artinya ”tidaklah dikatakan
dunia kecuali dengan agama dan tidaklah dikatakan agama kecuali dengan akhlak
mulia”. Maka, kita harus membangun rumah tangga dengan akhlak yang muliah.
Akhlak sebagi pondasi utama untuk membangun rumah tangga. Prinsip akhlak disini
adalah saling menghargai, menghormati, menyayangi, penuh dengan senyum. Sifat
ini dinamakan tabassum [التبسم] dan sifat ini sangat dianjurkan Rasulullah saw.
Keempat :
القران الكريم والحديث sebagai peta dan kompas. Sebagai pedoman agar tidak tersesat dalam perjalanan dan ketika menemukan kesulitan, keresahaan, bacalah al-Qur’an dan kemudian kembalikan atau pasrah kepada Allah. Suami dan istri harus saling mengingatkan dan ta’awun atau kerjasama dalam menghadapi kesulitan hidup. Semua persoalan harus diselesaikan berdua dan selalu pasrah kepada Allah. Kata Baihaki, ان ذ كرالله شفاء , ingat pada Allah sebagai obat, dan وان ذكرالناس داء ingat pada manusia penyakit. [البيهقي ].
Kelima :
Nasehat
[النصيحة], sebagai peralatan yang dibawa dalam perjlanan. Agama adalah nasehat
[الدين النصيحة], maka kembali kepada ajaran agama Islam dalam menghadapi setiap
persoalan, sehingga mudah terselesaikan. Maka dalam kehidupan rumah tangga,
sepenuh apapun perasaan cinta suami pada istri atau sebaliknya, kesalah fahaman
dan perselisihan [baik kecil maupun besar] mesti ada. Suami dan istri harus
saling mengingatkan, saling menasihati dengan sabar antara keduanya untuk
mencapai kebaikan وتواصو بالحق وتواصو بالصبر ( dan bernasehatlah dalam kebaikan
dan kesabaran ) atau mungkin kita butuh nasehat-nasehat orang tua, ustadz,
tokoh masyarakat, atau orang yang lebih berpengalaman, sebagai obat pencerahan
untuk mencapai tujuan hidup yang mungkin salah dilakukan oleh kita. Maka,
setelah mendapatkan nasehat-nasehat akan tumbuh saling percaya, saling
memaafkan, dan menghargai kesalah fahaman itu. Sikap ini dinamakan takarrum
[التكارم] atau saling menghargai.
Keenam :
Suami [الزوج
], sebagai nahkoda yang lihai. Suami harus pandai memainkan peranan, dapat
menjadi panutan, cerdas melihat situasi, agar penumpang atau orang yang
bersamanya merasa aman, tenang dan nyaman. Seorang suami harus memiliki ikhtiar
dalam menjalankan perannya, sehingga seburuk apapun situasi dan kondisi yang
dihadapinya, harus tenang, sabar, dan berserah diri pada Allah [يبتغون فضلا من
الله ورضوانا ], “mereka mencari karunia Allah dan keridhaan-Nya”. Maka
perumpamaan seorang suami, seperti seorang nahkoda yang menghadapi cuaca yang
buruk. Dia harus tetap tenang untuk mencapai tujuan, maka secara perlahan-lahan
tapi pasti dia akan lalui badai tersebut dan seluruh penumpang pasti akan
menghormati dan menghargainya. Penghargaan itu akan datang dengan sendirinya,
mungkin saja berupa ucapan terima kasih, mungkin ciuman, pelukan, bahkan dengan
kepasrahan diri penumpang dan penumpang tersebut tiada lain adalah istri. Sikap
ini dinamakan tala’ub [التلاعب ].
Ketujuh :
Kepasrahan
[التسليم], sebagai bekal yang cukup. Dalam menjalani kehidupan rumah tangga,
kita harus banyak berusaha [bekerja] dan berdo’a (وابتغ فيما اتاك الله الدار
الأخرة ولا تنس نصيبك من الدونيا وأحسن كما احسن الله إليك) " . “ carilah
anugrah Allah untuk kehidupan akhirat, tetapi jangan lupa nasib(bagian)mu untuk
kehidupan dunia dan berbuat baiklah sebagaimana Allah berbuat baik padamu”.
Karena usaha atau bekerja tanpa do’a akan sia-sia, dan begitu juga sebaliknya
do’a tanpa usaha atau bekerja adalah mimpi atau angan-angan belaka. Suami harus
berusaha mencari nafkah untuk menghidupi istrinya. Suami dan istri harus dapat
bekerja sama untuk melindungi perjalanan yang panjang, seorang suami tahu
kebutuhan istri dan begitu sebaliknya istri tahu kebutuhan suami. Dengan
demikian, akan terbangun sikap saling menghargai dan toleransi dalam berumah
tangga. Sifat ini dinamakan tasamuh [التسامح].
Ketujuh mutiara ini, dinamakan “Resep agar tetap bahagia”, bertujuan yang jelas, pasti, dan sampai dengan selamat di atas Ridho Ilahi Robbi, dengan mengucapkan :
بارك الله لكماوبارك عليكماوجمع بينكما فى خير
Semoga Allah memberkahi pernikahan kita semua”, amien yaa robbal ‘alamiieen.
wawlahu'alam..




Tidak ada komentar:
Posting Komentar