Seorang anak mendapati buku diary yang usang didalam kotak yang usang. Ia coba buka, ternyata itu buku harian ibunya. Ada beberapa kertas yang berbeda yang membuat ia penasaran. Kertas itu seperti terkena air, tapi anehnya hanya ada beberapa bagian saja. Ia buka dan ibaca.
"Banyak rasa yang berkecamuk dalam diri..
Mudah sekali menangis..
Akhir2 ini air mata terus mengalir..
Ketika ku tatap wajah mu saat tidur..
Kubelai rambut mu..
Ku kecup bibir kening mu..
Aku tak ingin kehilangan mu..
Cinta ku terlalu besar dengan mu..
Aku tak sangup jika berpisah dengan mu.
Membayangkannya saja aku tak sanggup..
Entah apa yang kurasa..
Air mata ini membasahi pipi..
Entah pirasat atau apa aku tak tau..
Jalan yang kita tempuh lurus dan lempeng..
Kita pun hidup tak berkekurangan..
Walaupun kadang kita mudah untuk berselisih paham..
Karna keegoisan ku..
Tapi kaubisa tenangkan ku di ujung malam..
Ku tau, kau bukan hanya milik ku..
Tapi milik orang tuamu..
Apalah aku, hanya orang asing..
Orang asing yang menumpang hidup dengan mu..
Aku pun dari keluarga sederhana dan tidak berpangkat atau priyayi..
Berbanding terbalik dengan keluarga mu..
Akupun selalu merepotkan mu..
merepotkan mu dengan segala kebutuhan keluarga ku..
Maafkan aku..
Ya, kau pernah sampaikan itu..
Jujur..
Hati ku sampai sekarang sakit..
Sakit mengingat kata2 itu..
Tapi jika ku mengingatnya,kucoba menepisnya..
Akupun bukan wanita yang diinginkan keluargamu jadi istrimu..
Aku jauh dibawah mu..
Kadang aku merasa risih dengan tatapan keluarga mu..
Risih dengan topik pembicaraan mereka..
Dan risih dengan komentar tentang kekurangan ku secara blak-blakan atau tersembunyi dan walaupun begitu aku bisa mendengarnya dan hanya menahan perih dihati..
Kadang aku berpikir untuk menyerah..
Tapi aku takut kehilangan mu..
Aku tetalu sayang dengan mu..
Sepertinya mulai sekarang aku harus belajar ikhlas dan mengikhlaskan..
Jika bendunganku mulai rapuh dan jebol..
Aku harus bersiap dan harus lebih mandiri..
Aku harus memikirkan masa depan ku dan anak ku..
Aku tak ingin menjadi rapuh lagi..
Ketika waktu itu tiba..
Aku ingin menghilang dari negri ini..
Dan menjadi orang asing di negri yang asing..
Memulai hidup baru dengan tanpa tekanan.."
Anak itu tak tau harus berkata apa. Dia hanya menatap lembaran itu dan merasakan apa yang dirasakan ibunya saat itu dan berkata "ibu jika aku sudah ada sat itu, akan ku peluk ibu dan ku hapus air mata mu..
Istirahatlah dengan tenag.. Maafkan, karna aku dan tekanan itu, kau bertarung nyawa dengan lebih. Dan kau bilang ke dokter selamatkan anak ku saja, ketika itu ayah memilih mu.. Tapi ibu bilang ke dokter u/ memilih ku saja.
"Banyak rasa yang berkecamuk dalam diri..
Mudah sekali menangis..
Akhir2 ini air mata terus mengalir..
Ketika ku tatap wajah mu saat tidur..
Kubelai rambut mu..
Ku kecup bibir kening mu..
Aku tak ingin kehilangan mu..
Cinta ku terlalu besar dengan mu..
Aku tak sangup jika berpisah dengan mu.
Membayangkannya saja aku tak sanggup..
Entah apa yang kurasa..
Air mata ini membasahi pipi..
Entah pirasat atau apa aku tak tau..
Jalan yang kita tempuh lurus dan lempeng..
Kita pun hidup tak berkekurangan..
Walaupun kadang kita mudah untuk berselisih paham..
Karna keegoisan ku..
Tapi kaubisa tenangkan ku di ujung malam..
Ku tau, kau bukan hanya milik ku..
Tapi milik orang tuamu..
Apalah aku, hanya orang asing..
Orang asing yang menumpang hidup dengan mu..
Aku pun dari keluarga sederhana dan tidak berpangkat atau priyayi..
Berbanding terbalik dengan keluarga mu..
Akupun selalu merepotkan mu..
merepotkan mu dengan segala kebutuhan keluarga ku..
Maafkan aku..
Ya, kau pernah sampaikan itu..
Jujur..
Hati ku sampai sekarang sakit..
Sakit mengingat kata2 itu..
Tapi jika ku mengingatnya,kucoba menepisnya..
Akupun bukan wanita yang diinginkan keluargamu jadi istrimu..
Aku jauh dibawah mu..
Kadang aku merasa risih dengan tatapan keluarga mu..
Risih dengan topik pembicaraan mereka..
Dan risih dengan komentar tentang kekurangan ku secara blak-blakan atau tersembunyi dan walaupun begitu aku bisa mendengarnya dan hanya menahan perih dihati..
Kadang aku berpikir untuk menyerah..
Tapi aku takut kehilangan mu..
Aku tetalu sayang dengan mu..
Sepertinya mulai sekarang aku harus belajar ikhlas dan mengikhlaskan..
Jika bendunganku mulai rapuh dan jebol..
Aku harus bersiap dan harus lebih mandiri..
Aku harus memikirkan masa depan ku dan anak ku..
Aku tak ingin menjadi rapuh lagi..
Ketika waktu itu tiba..
Aku ingin menghilang dari negri ini..
Dan menjadi orang asing di negri yang asing..
Memulai hidup baru dengan tanpa tekanan.."
Anak itu tak tau harus berkata apa. Dia hanya menatap lembaran itu dan merasakan apa yang dirasakan ibunya saat itu dan berkata "ibu jika aku sudah ada sat itu, akan ku peluk ibu dan ku hapus air mata mu..
Istirahatlah dengan tenag.. Maafkan, karna aku dan tekanan itu, kau bertarung nyawa dengan lebih. Dan kau bilang ke dokter selamatkan anak ku saja, ketika itu ayah memilih mu.. Tapi ibu bilang ke dokter u/ memilih ku saja.



